Stockholm Syndrome, Inferiority Complex, atau Mental Inlander?


Pertama kali saya mengenal istilah Stockholm syndrome adalah lewat serial Money Heist di Netflix pada 2019. Saya lupa persisnya mulai menonton dari season berapa. Yang saya ingat, serial yang kemudian menjadi fenomena global ini mudah diikuti, dan setiap karakternya punya kekuatan serta daya tarik masing-masing.


Salah satu karakter yang mendapat sorotan cukup besar adalah Monica Gaztambide. Ia seorang sekretaris yang menjalin hubungan terlarang dengan atasannya, Arturo Román, hingga akhirnya hamil. Saat ia sedang sibuk menuntut tanggung jawab dan kepastian dari Arturo, Royal Mint of Spain, tempat mereka bekerja, tiba-tiba dirampok.


Monica ikut menjadi sandera. Di tengah situasi mencekam itu, ia justru semakin dekat dengan salah satu perampok, Denver. Kedekatan yang terbangun selama penyanderaan perlahan berubah menjadi perasaan cinta. Karena itulah Monica dijuluki “Stockholm”, merujuk pada fenomena ketika korban penyanderaan menumbuhkan ikatan emosional dengan pelakunya.


Namun, apa sebenarnya Stockholm syndrome itu? Istilah ini berasal dari perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada 1973. Selama beberapa hari, para sandera disekap oleh perampok, dan setelah dibebaskan mereka justru membela para penyandera dan enggan bersaksi melawan mereka. Kriminolog sekaligus psikiater Nils Bejerot kemudian memopulerkan istilah tersebut.


Perlu dicatat bahwa Stockholm syndrome bukan diagnosis resmi dalam manual psikiatri seperti DSM-5. Para ahli melihatnya sebagai respons psikologis, semacam mekanisme bertahan hidup. Ketika seseorang tidak berdaya dan hidupnya bergantung pada orang lain, bersikap baik dan membangun ikatan dengan pelaku bisa menjadi cara untuk merasa aman.

Karena itu, kisah Monica dan Denver di layar memang terasa romantis, tetapi di dunia nyata fenomena ini jauh lebih kompleks dan sering kali menyakitkan bagi korbannya.

Sejak menonton serial itu, satu pertanyaan sering mengganggu saya. Fenomena apa yang paling dekat dengan kondisi di negara kita: Stockholm syndrome, inferiority complex, atau mental inlander?

Istilah terakhir akrab di telinga kita sejak masa kolonial. Ia merujuk pada mentalitas bangsa terjajah yang merasa lebih rendah, lebih percaya pada orang asing, dan menerima begitu saja nasib yang digariskan pihak lain. Bung Karno berulang kali memperingatkan bahaya mentalitas ini, bahkan setelah kemerdekaan.

Pagi ini saya membaca berita tentang sekelompok orang yang ramai-ramai mendoakan pejabat yang terjerat korupsi. Yang dikorupsi bukan sembarangan, melainkan kuota haji, uang yang dikumpulkan rakyat bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, demi satu ibadah seumur hidup. Mendoakan orang lain tentu bukan hal tercela. Namun di tengah ketidakadilan yang nyata, doa untuk pelaku sering kali datang jauh lebih deras daripada empati untuk korban.

Saya juga heran pada fenomena lain. Seseorang sudah jelas menunjukkan red flag dan punya rekam jejak yang kelam, tetapi tetap diidolakan. Contohnya para idol Korea yang tersandung skandal. Di negaranya sendiri mereka dihukum keras oleh publik lewat cancel culture, sementara di tempat lain mereka tetap dielu-elukan seolah tak ada yang terjadi.

Mungkin ini karena kita mudah iba. Melihat orang bersalah mengakui kesalahannya sambil menangis, hati kita luluh, lalu kita memaafkan, dan perkara selesai. Padahal air mata bukan bukti perubahan, dan penyesalan di depan kamera belum tentu berarti pertanggungjawaban.

Bandingkan dengan Korea Selatan. Pada 2011, sebuah patung gadis kecil duduk di kursi, Patung Perdamaian, dipasang di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul. Patung itu dibuat oleh organisasi masyarakat sipil untuk mengenang para “wanita penghibur”, korban perbudakan seksual pada masa pendudukan Jepang. Ia tidak dibuat untuk memelihara dendam, melainkan untuk memastikan sejarah tidak dilupakan, bahkan ketika dua negara kini menjalin hubungan dagang dan budaya yang erat.

Tentu kita harus tetap objektif. Mengingat kesalahan masa lalu tidak berarti menutup mata pada kerja sama dan keuntungan yang bisa diraih hari ini. Tetapi kerja sama tidak seharusnya menghapus ingatan. Kesalahan adalah pelajaran, dan pelajaran yang dilupakan akan terulang.

Renungan ini membuat saya mengerti mengapa kita begitu sering terjebak dalam situasi toxic, entah dalam hubungan asmara, pertemanan, maupun lingkungan kerja, dengan dalih “tidak punya pilihan”. Kita terlalu mudah memaafkan dan terlalu cepat melupakan. Kita menimbang seseorang dari kebaikan sesaat yang ia tunjukkan, bukan dari pola perilakunya yang berulang.

Jadi, mana yang paling tepat untuk menggambarkan kita? Mungkin bukan salah satunya, melainkan campuran ketiganya. Ada sedikit Stockholm syndrome, ketika kita membela pihak yang menyakiti kita. Ada inferiority complex, ketika kita merasa tak pantas menuntut lebih. Dan ada warisan mental inlander, ketika kita terbiasa menerima keadaan tanpa bertanya.

Memaafkan adalah kebajikan. Tetapi memaafkan tanpa mengingat, tanpa menuntut pertanggungjawaban, dan tanpa belajar bukan lagi kebajikan. Itu kelalaian yang kita biarkan menjadi kebiasaan.




Comments

Popular posts from this blog

Balada Mahasiswa Salah Jurusan

Kenalan dengan Social Media Specialist

Sudah Terlalu Tua untuk Officer Development Program